.post-body.entry-content { text-align: justify; }

Rabu, 03 April 2013

Penggunaan Bahasa Ilmiah

      Penggunaan Bahasa Indonesia Ilmiah
Proses penulisan dapat langsung dilakukan tanpa menunggu data-data yang kita perlukan secara utuh. Dengan begitu kita dapat memulainya dengan langkah kecil terlebih dahulu misalnya
dengan memperdalam lagi kajian pustaka dengan buku yang saat itu tersedia dan dapat juga dikerjakan pada kerangka-kerangka tulisan lainnya dan harus memperhatikan sifat tulisan ilmiah.
1.    Bahasa Tulisan Ilmiah
Sesuai dengan tulisan ilmiah, yakni sifat objektif, maka bahsa sebagai wadah informasinya pun harus mengandung sifat objektif, monointerpretatif, tidak mengandung sentuhan-sentuhan emosi seperti penggunaan gaya bahasa, dan tidak menimbulkan kesan sulit yang ditafsirkan.
a)   Terhindarnya dari gejala penyimpangan bahasa
Sebelas jenis penyimpangan bahasa, yakni penyimpangan makna kata, penyimpangan sistem penulisan, simplifikasi, interferensi intrabahasa, salah kaprah, pengaruh kalimat transitif, penggunaan kopula, susun predikat pasif, pola tidak konsisten, kekeliruan dalam ellipsis subjek kalimat, dan simulfiksasi.
b)   Eksplisitnya unsur inti kalimat
Dalam hal eksplisitnya/tersurat unsur inti kalimat, bahasa tulisan ilmiah cenderung bertentangan  dengan bahasa tulisan semiilmiah karena tulisan ilmiah berisi informasi yang eksplisit atau tersurat.
Contoh:
kalimat dengan unsur inti kalimat tidak eksplisit pada unsur subjek
·         Sungai Citarum sungai terpanjang di Jawa Barat. Melewati beberapa kabupaten, yakni Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Cianjur, Purwakarta, Subang, dan Kabupaten Karawang. Akhirnya bermuara ke Laut jawa, di kota Pamanukan.
Dalam tulisan ilmiah hendaknya ditulis seperti ini,
·         Sungai Citarum merupakan sungai terpanjang di Jawa Barat. Sungai ini melewati beberapa kabupaten, yakni Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Cianjur, Purwakarta, Subang, dan Kabupaten Karawang. Akhirnya bermuara ke Laut jawa, di kota Pamanukan.
Kalimat dengan unsur inti kalimat tidak eksplisit pada unsur predikat,
·         Titik tertinggi di dunia ini Mount Everest. Tinggi puncak tersebut 8850 meter.
Dalam tulisan ilmiah hendaknya ditulis seperti ini,
·         Titik tertinggi di dunia ini Mount Everest. Tinggi puncak tersebut tercatat 8850 meter.
c)    Eksplisitnya kata tugas
Kata tugas yang cenderung dilesapkan adalah konjungsi dan preposisi.
Contoh:
·         (Dengan) berdasar pada teori ST. Alisyahbana, ada dua macam keterangan kalimat, yakni keterangan yang erat hubungannya dengan predikat dan keterangan yang renggang hubungannya dengan predikat.
·         (Setelah) memerhatikan gejala-gejala sembuhnya penyakit lever karena minuman daun Paliasa, maka Prof. Gemini Alam mencoba melakukan uji coba laboratorium tentang zat-zat kandungan daun Paliasa tersebut.
d)   Menghindari penggunaan kata-kata bermakna konotatif
Tulisan ilmiah harus terhindar dari penggunaan kata yang berpeluang memunculkan makna konotatif baik makna rendah maupun makna tinggi karena harus bersifat netral. Selain itu penulis juga harus konsisten dalam memilih dan menggunakkan kata tersebut.
Contoh:
·         Kata Babu dan Pramuwisma
Makna denotatif sama yakni pembantu rumah tangga. Makna secara konotatif, babu terkandung makna sosial rendahan, bahkan mungkin lebih hina. Sedangkan pramuwisma terkandung makna sosial yang lebih tinggi, lebih berharga dari babu.
·         Kata Perempuan dan Wanita
Makna denotatif sama yakni jenis kelamin yang berlawanan dengan laki-laki. Makna secara konotatif, perempuan terkandung makna sosial rendah daripada wanita, kurang terpelajar, lebih banyak tinggal di rumah, tradisional, dan lain-lain lagi. Sedangkan wanita makna sosialnya lebih tinggi daripada perempuan, terpelajar, modern, aktif dalam pembinaan lingkungan, dan lain-lain lagi.

0 komentar:

Posting Komentar